Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 November 2009

Misteri Pencuri Uang Lina

Kantin itu terletak di belakang sekolah. Bangunannya sederhana, tapi cukup bersih dan sehat. aka setiap jam istirahat, kantin itu dipenuhi anak-anak. Aku dan Lina duduk di sudut ruangan. Di situ ada meja gantung dilengkapi kursi panjang menghadap tembok. Cukup untuk duduk bertiga. Lina minum es cendol dan aku es jeruk. “Wah, sedang asyik, nih?” tanya Erni yang baru datang. Ia menengok ke kanan kiri mencari tempat kosong. “Nih, duduk di sini, masih muat!” ajakku. “Makanya, jangan suka terlambat ke sini, Er!” sergah Lina. “Ngg, soalnya aku harus ke perpustakaan, pinjam buku,” jawab Erni. Erni sepertinya terpaksa duduk di dekatku. Ia memang tidak biasa bermain dengan aku dan Lina. Selanjutnya, kami lebih banyak diam. Tapi aku penasaran. Erni tidak suka membaca. Jadi, aneh rasanya kalau tadi dia ke perpustakaan. “Hayo, semua harus bayar ya!” kata Mbok Darun ramah. Pemilik kantin itu bernama Mbok Darun. Setiap jam istirahat, ia sibuk melayani pembeli. Semua berebut minta didahulukan, sehingga suasana jadi sembrawut. Kalau sudah begitu, Mbok Darun pasti ngomel-ngomel. Sebab ada beberapa siswa yang tidak membayar. Hanya saja ia tidak tahu siapa orangnya. Tapi, tiga hari ini, Mbok Darun tidak marah-marah lagi. Ada apa, ya? Apakah siswa yang sering tidak bayar itu sudah insaf? “Es jeruk satu, kue kukus dua. Berapa?” tanya Lina pada Mbok Darun. “Sebentar!” potongku. “Hari ini giliranmu jadi bos. Artinya, es cendolku juga mesti kau hitung,” lanjutku. “Okey, aku seribu. Kamu habis berapa? Ayo, hitung yang benar biar Mbok Darun tidak marah-marah! Iya kan, Mbok?” Lina melirik Mbok Darun. Tapi tiba-tiba, “Aduh, uangku tertinggal di tas. Tolong, bayari punyaku juga, It! Nanti kuganti, deh,” seru Lina sambil berlari. “Huu…” keluhku sambil menyodorkan uang yang kuterima dari Lina kemarin. Akhir-akhir ini Lina memang agak aneh. Sudah tiga kali ini ia tidak mentraktirku, dan meminjam uangku. Walaupun keesokan harinya ia pasti mengganti uangku. Alasannya, uang hilang. Masa iya, hilang terus-terusan? “Uang, kok, dicorat-coret sembarangan,” keluh Mbok Darun sambil menerima uangku. “Itu namanya tanda tangan, Mbok,” aku menjelaskan coretan itu. Lina memang punya kebiasaan buruk, menandatangani uangnya. Kembali dari kantin, kulihat Lina tampak bingung di luar kelas. “Kenapa kamu, Lin?” “Maaf, It! Aku tadi hanya bercanda. Dan aku tahu, hari ini memang giliranku mentraktirmu,” katanya terbata-bata. “Sebenarnya tadi aku memang mau mengambil uang di tasku. Tapi, uangku hilang lagi. Ini sudah yang ketiga kalinya,” suara Lina lirih. Hari-hari yang lalu, Mbok Darun marah karena ada anak yang tidak bayar. Sekarang ganti Lina yang kehilangan uang jajan. Peristiwa pertama selesai, walau pelakunya tidak tertangkap. Tapi muncul masalah baru. Ah, jangan-jangan kedua peristiwa itu saling berkaitan. “Kamu kenapa tidak lebih hati-hati? Kok kecurian sampai tiga kali?” aku jadi agak curiga pada Lina. “Ya, aku menyesal sekali tidak hati-hati. Soalnya…, pencuri itu hanya mengambil separuh uang jajanku. Cuma seribu rupiah.” Wah-wah, pencurinya hanya mencuri sesuai kebutuhannya mungkin. “Mana sisanya?” tanyaku. “Ini!” Lina mengulurkan uang yang diambil dari dompetnya. “Pasti pencuri itu mau bilang, ‘Sisa ini untuk Ita’,” kucoba berkelekar. “Aku sedang serius, It,” sergahnya. Kuterima selembar uang ribuan. Tidak ada yang menarik. Kertasnya sudah lusuh. Banyak lipatan disana-sini. Di sudut atas ada tanda tangan bertinta hitam. Tanda tangan. Ah, tanda tangan itu mengingatkan aku pada kantin Mbok Darun. Maka, uang itu langsung kukantongi. Dan buru-buru meninggalkan Lina. “Lo, kamu mau kemana lagi, Ita?” “Mau beli es lagi pakai uang sisa pencuri.” “Hei, itu uangku, It!” teriak Lina yang tidak kugubris. Waktu istirahat hampir habis. Aku terus berlari menuju kantin. Di sana masih ada beberapa teman yang belum beranjak dari kursinya. Ada Tuti, Erni, Budi, dan juga Roni. Mereka sedang menghabiskan minuman dan makanan mereka. “Kenapa balik lagi, It?” tanya Roni. “Anu, tadi ada yang tertinggal,” jawabku sekenanya. Tampak Erni tidak menyukai kedatanganku. Ia buru-buru berpamitan pada Tuti. Lalu membayar pada Mbok Darun. “Sudah, Mbok! Es campur tambah kacang. Berapa?” katanya sambil mengacungkan selembar uang seribuan. Kulihat uang yang diulurkan Erni. Aku jadi terbelalak. Tanda tangan. Ya, di sudut atas uang Erni itu tertera tanda tangan. Sama dengan tanda tangan di uang Lina. Maka secepat kilat tangan Erni itu kupegang. “Lihat, tanda tangan ini! Sama persis. Ini tanda tangan Lina!” ucapku sambil menunjukkan uang yang tadi kukantongi. Lalu aku melirik Mbok Darun. “Mbok, jangan suka marah-marah pada semua pembeli. Marahlah pada Erni!” kataku mantap. Mbok Darun bingung tertegun, dan Erni pucat pasi. Hem, hilangnya uang Lina, ternyata berkaitan dengan hilangnya marah-marah Mbok Darun.

Hadiah manis untuk Arya

Arya berdiri di ruang makan. Sebentar-sebentar dia mengintip ke ruang kerja ayahnya. Di ruangan itu tersimpan buku-buku koleksi ayahnya. Ruangan itu dialasi tikar lampit Kalimantan. Sangat nyaman. Arya dan Astri betah berlama-lama membaca di situ. Ibu Arya yang seorang guru, juga sering mengoreksi soal-soal ulangan di situ. Sekarang ini lampu ruangan itu mati. Ayah belum sempat menggantikan dengan lampu baru. Arya mengintip sekali lagi. Namun ia tidak bisa melihat jelas karena ruangan itu agak gelap. Sore itu tidak ada seorang pun di rumah kecuali Arya. Ayah dan ibu mengantar Astri ke dokter gigi. Arya mulai gelisah. Ia ingin sekali masuk ke ruangan itu. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh dering telepon. Ternyata dari Dani, teman sekelasnya. "Kalau kamu tidak bisa menemukannya, berarti kamu ingkar janji. Dasar pengecut!" kata Dani dengan suara keras. "Tapi Dan..." jawab Arya gugup. Belum sempat Arya menyelesaikan kalimatnya, telepon sudah ditutup Dani. Arya lalu berjalan menuju ruang belajar. Besok Ibu akan memberi ulangan matematika. Di ruang itulah biasanya Ibu mempersiapkan soal-soal ulangan. Perlahan-lahan dibukanya pintu ruangan itu. Berkas sinar lampu dari ruang makan menerobos masuk. "Itu dia!" gumam Arya gembira. Sebuah buku tergeletak di meja. Tampak ada sehelai kertas terselip di dalamnya. Arya tahu benar bahwa mengintip soal sebelum ulangan adalah perbuatan curang. Namun ejekan Dani terngiang-ngiang di telinganya. Arya menarik napas panjang dan berkata pada dirinya sendiri, "Aku bukan pengecut. Aku harus mengambilnya!" Dengan gemetar, diambilnya kertas itu dari atas meja. Lega rasanya begitu melihat bahwa kertas itu benar-benar soal ulangan matematika. Rasa takut kembali muncul di hatinya. "Pengecut, pengecut!" Mengingat kata-kata Dani itu, Arya menjadi nekat membawa kertas itu keluar. Secepat kilat ia lari ke ruang TV menelepon Dani. "Hebat!" teriak Dani. Arya lalu membacakan soal matematika itu dan Dani mencatatnya. "Terima kasih, Arya. Besok kutraktir es krim Mas Doto deh!" seru Dani riang. Arya tertegun sejenak. Dia lalu lari ke ruang belajar dan menyimpan kembali kertas soal itu. Baru saja Arya hendak menutup pintu ruang belajar, terdengar suara mobil Ayah di depan rumah. "Hmmm, untung sudah beres," gumamnya perlahan. Keesokkan harinya ulangan matematika berlangsung sesuai jadwal. "Ya ampun, soalnya persis sekali!" seru Arya dalam hati. Dani berhasil menyelesaikan soal ulangan dalam waktu dua puluh menit. Ketika ia menyerahkan lembar jawaban, semua anak memandang keheranan padanya. Arya tersenyum dan Dani membalas dengan mengedipkan sebelah matanya. "Kau adalah sahabatku yang paling baik di dunia!" ucap Dani saat mereka menikmati es krim di bawah pohon. Arya tersipu. Sore harinya, saat Arya pulang ke rumah, "Arya, Ibu punya kejutan buatmu!" seru Ibu gembira. "Wow, chicken pie!" teriak Arya. "Makasih, Bu!" seru Arya lagi. Saat makan malam tiba, dengan bangga Ibu menceritakan kehebatan anaknya. "Ayah, Arya mendapat nilai matematika paling tinggi di kelas, lo!" seru Ibu. "Wah hebat! Anak istimewa harus mendapat hadiah istimewa! " timpal Ayah. "Aku juga mau kasih Mas Arya hadiah. Tapi rahasia!" ucap Astri, adik Arya. Arya menutup mulut dengan tangannya. Alisnya agak terangkat. Ia menjadi salah tingkah. Ia malu dan merasa sangat bersalah. Arya akhirnya menunduk dan berkata lirih, "Maaf, Bu. Saya membaca soal ulangan matematika itu tadi malam," air mata menggenang di pelupuk matanya. Ibu memeluknya dengan lembut dan berkata, "Hmm, Ibu senang akhirnya kamu mengaku. Tapi mengapa kau lakukan itu? Ada yang menyuruhmu?" desak Ibu lembut. "Ti...tidak, Bu!" sahut Arya cepat, tetap menunduk. "Memang serba salah jadi anak guru, ya?" Ibu menyelidik halus. "Mmm...sebetulnya kalau aku berani, hal ini tidak akan terjadi, Bu," jawab Arya memberanikan diri. Ibu tersenyum mendengar jawaban anaknya. "Sebenarnya Ibu curiga sejak tadi malam. Kau tidak menyelipkan kembali soal matematika itu pada halaman semula," jelas Ibu bijak. "Dan Ibu tambah curiga melihat gerak-gerik Dani saat menyerahkan soal. Tapi sudahlah, kamu kan sudah mengakui kesalahanmu," ucap Ibu lagi. "Jadi, sebetulnya Ibu sudah tahu sejak tadi malam?" Arya keheranan. Ibu tersenyum mengangguk. "Lo...kenapa Mas Arya tidak langsung dimarahi, Bu?" tanya Astri. Ayah tertawa sambil mengacak-acak rambut Astri, "Kamu tuh paling suka kalau Mas Arya dihukum!" "Menghukum seseorang itu tidak harus selalu dengan marah-marah!" Ibu menjelaskan. "Bu, Arya lebih baik dimarahi habis-habisan daripada diperlakukan dengan baik begini," sergah Arya. "Akh kamu! Sudah salah malah nawar-nawar!" sahut Ayah sambil tertawa. Arya menghela nafasnya. Tiba-tiba Ayah menyeletuk, "Astri, sini chicken pie nya. Ayah habiskan saja deh!" Astri dan Arya serentak lari menuju lemari makan, dan berteriak, "Jangan dooong!" Ayah dan Ibu tertawa melihat tingkah kedua anaknya. ***
Mundur satu

Barter

Selesai sudah Emi menyapu lantai rumah. Di luar, Dian telah menunggu untuk jajan miso di tempat Pak Saerah.“Yo’ik… yo ‘ik…” seru Emi riang sembari berlari menuruni anak tangga teras.“Lari-lari, nanti jatuh lo,” Dian tersenyum dari atas kursi rodanya.Ya, ia murid SLB bagian D. Rumah Pak Saerah berada di depan kompleks SLB. Gerobak miso sudah siap di serambi. Mie dan bulatan-bulatan bakso nampak menggunung di dalamnya. Ini sudah jam 4 sore. Pak Saerah tentu akan segera membawanya ke terminal dan pulang malam-malam. Makanya harus buru-buru bila ingin membeli.Siti, anak Pak Saerah, tengah mengupas bawang merah di balai-balai. Melihat Emi dan Dian datang ia menyapa ramah, “Emi, Dian… Mau beli miso, ya? Belum matang nih.”“Lo, tumben?” ujar Emi dan Dian berbarengan.“Ibu lagi sakit. Sekarang Bapak mau mengantarnya ke dokter Isnan. “ Selesai Emi bicara Pak Saerah nampak keluar menuntun sepeda.“Mau beli miso, ya?” Pak Saerah memandang Emi dan Dian. “Tunggu sebentar ya! Siti akan segera membumbui kuahnya dan menggoreng bawang merah,” lanjutnya ramah.Siti bangkit berdiri sembari mengibaskan roknya. Bawang merah yang selesai dikupas berada dalam panci yang dipenuhi air. Siti pernah bilang bila direndam demikian, tak akan pedih di mata ketika diiris nanti.Emi memapah Dian turun dan duduk di balai-balai. Sementara Siti dan Pak Saerah masuk ke dalam rumah. Ada dua pisau di situ, Emi dan Dian meraihnya satu-satu. Siti nampaknya juga sudah siap dengan talenan dan baki. Emi dan Dian mengiris bawang merah di hadapannya tanpa diminta.Tak berapa lama kemudian, Pak Saerah dan Siti nampak ke luar memapah Bu Saerah. Menuju ke sepeda di depan serambi. Tapi begitu Bu Saerah duduk di boncengan, tubuhnya terkulai. Ia kelihatan lemah sekali.“Aku tak kuat kalau harus bonceng sepeda, Pak,” desis Bu Saerah lirih.“Baiklah aku akan memanggil becak. Ayo masuk lagi,” kata Pak Saerah.“Mengapa mesti memanggil becak, Pak? Antarlah Bu Saerah ke dokter dengan kursi rodaku,” cetus Dian tiba-tiba.Gerakan Pak Saerah dan Siti terhenti. Ditolehnya Dian. Dian mengangguk meyakinkan. Emi bergegas mendorong kursi roda ke dekat mereka.“Aaah… kalau begitu… terima kasih banyak,” kata Pak Saerah setelah sesaat terpana. Rasa gembira dan haru berbaur menjadi satu.Nah, Bu Saerah telah duduk manis di atas kursi roda. Pak Saerah mendorongnya ke luar halaman, menyusur sepanjang tepi jalan, menuju tempat praktek dokter Isnan. Siti berdiri mengawasi dari tepi serambi, hingga Bapak-ibunya menikung jalan dan hilang dari pandangan.“Kalian jadi ikut repot,” Siti menoleh pada Dian dan Emi yang tengah sibuk mengiris bawang merah.“Ah, tidak,” sergah Emi dan Dian tulus. “Bawang merahnya tidak pedih di mata, lo,” sambung Emi. “He-eh,” Dian mengiyakan.Siti tersenyum sembari melangkah ke dalam rumah. Ketika ke luar lagi, ia nampak membawa sebuah piring kecil berisi ulekan bumbu miso. Bumbu itu dimasukkannya ke dalam panci kuah yang berada di bagian belakang gerobak. Begitu tutup panci dibuka, wusss… kepul-kepul asap panas mengudara dari dalamnya. Sesudah itu, Siti masuk ke dalam rumah lagi, dan beberapa saat kemudian ke luar lagi. Begitu berulang-ulang. Ia sungguh sibuk. Membuat sambal, membuat acar mentimun, mengiris daun seledri, mencuci daun selada, dan entah apa lagi. Yang pasti ia terampil sekali.“Nah, bawang merah sudah selesai diiris nih, Ti,” kata Emi saat Siti memasukkan setumpukkan mangkuk ke dalam laci gerobak.“Terima kasih.” Siti bergegas melangkah ke dalam rumah, membawa irisan bawang merah yang menggunung dalam baki itu untuk di goreng. Sementara Emi dan Dian tiduran di balai-balai sambil bercakap.Beberapa menit berlalu. Beres sudah semua. Siti berseri-seri, ia siap melayani Dian dan Emi. Dalam meracik miso mangkuk pun Siti sudah ahi.“Wah, rasanya tidak beda dengan buatan Bu Saerah atau Pak Saerah.” Emi berkomentar lalu mulutnya berdecap-decap tiada henti.“Iya ya, Siti pasti jadi juragan nanti,” gurau Dian. Emi dan Siti tertawa mendengarnya.Emi dan Dian baru selesai makan miso, ketika Pak Saerah dan Bu Saerah datang. Di dalam hati mereka berdoa agar Bu Saerah cepat sembuh. Siti dan Pak Saerah memapah Bu Saerah masuk ke dalam rumah. Emi mendorong kursi roda tadi ke dekat balai-balai. Dibantunya Dian duduk ke atasnya. Tak lama kemudian Pak Saerah keluar. Di lehernya terkalung handuk putih berukuran kecil. Artinya ia sudah siap untuk pergi ke terminal. Emi segera menyodorkan tiga lembar uang lima ratusan padanya. Itu uang miso Dian dan dirinya. Tapi Pak Saerah malah tertawa.“Wah, jadi berapa rupiah aku harus membayar sewa kursi roda dan rasa capek kalian mengiris bawang merah?” ujar Pak Saerah jenaka sembari menolak uang yang Emi sodorkan.Emi dan Dian terkesiap. Mereka berpandangan.“Kali ini kalian tak usah bayar. Kita barter saja, ya?” nada suara Pak Saerah masih saja jenaka. Lalu mendorong gerobak misonya turun ke halaman.“Terima kasih, Pak,” seru Emi setelah sesaat terpana.“Aku juga terima kasih Pak,” Dian menirukan.Pak Saerah yang telah sampai di tengah halaman menoleh sekilas sambil tersenyum manis. “Sama-sama!” katanya.“Terima kasih untuk semuanya Emi, Dian…,” gantian Siti kini yang bicara. Tiba-tiba ia sudah berada di mulut pintu.“Sama-sama,” Emi dan Dian menjawab berbarengan. Lantas keduanya berpamitan pulang. Pulang dengan perasaan lapang
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 November 2009

Misteri Pencuri Uang Lina

Kantin itu terletak di belakang sekolah. Bangunannya sederhana, tapi cukup bersih dan sehat. aka setiap jam istirahat, kantin itu dipenuhi anak-anak. Aku dan Lina duduk di sudut ruangan. Di situ ada meja gantung dilengkapi kursi panjang menghadap tembok. Cukup untuk duduk bertiga. Lina minum es cendol dan aku es jeruk. “Wah, sedang asyik, nih?” tanya Erni yang baru datang. Ia menengok ke kanan kiri mencari tempat kosong. “Nih, duduk di sini, masih muat!” ajakku. “Makanya, jangan suka terlambat ke sini, Er!” sergah Lina. “Ngg, soalnya aku harus ke perpustakaan, pinjam buku,” jawab Erni. Erni sepertinya terpaksa duduk di dekatku. Ia memang tidak biasa bermain dengan aku dan Lina. Selanjutnya, kami lebih banyak diam. Tapi aku penasaran. Erni tidak suka membaca. Jadi, aneh rasanya kalau tadi dia ke perpustakaan. “Hayo, semua harus bayar ya!” kata Mbok Darun ramah. Pemilik kantin itu bernama Mbok Darun. Setiap jam istirahat, ia sibuk melayani pembeli. Semua berebut minta didahulukan, sehingga suasana jadi sembrawut. Kalau sudah begitu, Mbok Darun pasti ngomel-ngomel. Sebab ada beberapa siswa yang tidak membayar. Hanya saja ia tidak tahu siapa orangnya. Tapi, tiga hari ini, Mbok Darun tidak marah-marah lagi. Ada apa, ya? Apakah siswa yang sering tidak bayar itu sudah insaf? “Es jeruk satu, kue kukus dua. Berapa?” tanya Lina pada Mbok Darun. “Sebentar!” potongku. “Hari ini giliranmu jadi bos. Artinya, es cendolku juga mesti kau hitung,” lanjutku. “Okey, aku seribu. Kamu habis berapa? Ayo, hitung yang benar biar Mbok Darun tidak marah-marah! Iya kan, Mbok?” Lina melirik Mbok Darun. Tapi tiba-tiba, “Aduh, uangku tertinggal di tas. Tolong, bayari punyaku juga, It! Nanti kuganti, deh,” seru Lina sambil berlari. “Huu…” keluhku sambil menyodorkan uang yang kuterima dari Lina kemarin. Akhir-akhir ini Lina memang agak aneh. Sudah tiga kali ini ia tidak mentraktirku, dan meminjam uangku. Walaupun keesokan harinya ia pasti mengganti uangku. Alasannya, uang hilang. Masa iya, hilang terus-terusan? “Uang, kok, dicorat-coret sembarangan,” keluh Mbok Darun sambil menerima uangku. “Itu namanya tanda tangan, Mbok,” aku menjelaskan coretan itu. Lina memang punya kebiasaan buruk, menandatangani uangnya. Kembali dari kantin, kulihat Lina tampak bingung di luar kelas. “Kenapa kamu, Lin?” “Maaf, It! Aku tadi hanya bercanda. Dan aku tahu, hari ini memang giliranku mentraktirmu,” katanya terbata-bata. “Sebenarnya tadi aku memang mau mengambil uang di tasku. Tapi, uangku hilang lagi. Ini sudah yang ketiga kalinya,” suara Lina lirih. Hari-hari yang lalu, Mbok Darun marah karena ada anak yang tidak bayar. Sekarang ganti Lina yang kehilangan uang jajan. Peristiwa pertama selesai, walau pelakunya tidak tertangkap. Tapi muncul masalah baru. Ah, jangan-jangan kedua peristiwa itu saling berkaitan. “Kamu kenapa tidak lebih hati-hati? Kok kecurian sampai tiga kali?” aku jadi agak curiga pada Lina. “Ya, aku menyesal sekali tidak hati-hati. Soalnya…, pencuri itu hanya mengambil separuh uang jajanku. Cuma seribu rupiah.” Wah-wah, pencurinya hanya mencuri sesuai kebutuhannya mungkin. “Mana sisanya?” tanyaku. “Ini!” Lina mengulurkan uang yang diambil dari dompetnya. “Pasti pencuri itu mau bilang, ‘Sisa ini untuk Ita’,” kucoba berkelekar. “Aku sedang serius, It,” sergahnya. Kuterima selembar uang ribuan. Tidak ada yang menarik. Kertasnya sudah lusuh. Banyak lipatan disana-sini. Di sudut atas ada tanda tangan bertinta hitam. Tanda tangan. Ah, tanda tangan itu mengingatkan aku pada kantin Mbok Darun. Maka, uang itu langsung kukantongi. Dan buru-buru meninggalkan Lina. “Lo, kamu mau kemana lagi, Ita?” “Mau beli es lagi pakai uang sisa pencuri.” “Hei, itu uangku, It!” teriak Lina yang tidak kugubris. Waktu istirahat hampir habis. Aku terus berlari menuju kantin. Di sana masih ada beberapa teman yang belum beranjak dari kursinya. Ada Tuti, Erni, Budi, dan juga Roni. Mereka sedang menghabiskan minuman dan makanan mereka. “Kenapa balik lagi, It?” tanya Roni. “Anu, tadi ada yang tertinggal,” jawabku sekenanya. Tampak Erni tidak menyukai kedatanganku. Ia buru-buru berpamitan pada Tuti. Lalu membayar pada Mbok Darun. “Sudah, Mbok! Es campur tambah kacang. Berapa?” katanya sambil mengacungkan selembar uang seribuan. Kulihat uang yang diulurkan Erni. Aku jadi terbelalak. Tanda tangan. Ya, di sudut atas uang Erni itu tertera tanda tangan. Sama dengan tanda tangan di uang Lina. Maka secepat kilat tangan Erni itu kupegang. “Lihat, tanda tangan ini! Sama persis. Ini tanda tangan Lina!” ucapku sambil menunjukkan uang yang tadi kukantongi. Lalu aku melirik Mbok Darun. “Mbok, jangan suka marah-marah pada semua pembeli. Marahlah pada Erni!” kataku mantap. Mbok Darun bingung tertegun, dan Erni pucat pasi. Hem, hilangnya uang Lina, ternyata berkaitan dengan hilangnya marah-marah Mbok Darun.

Hadiah manis untuk Arya

Arya berdiri di ruang makan. Sebentar-sebentar dia mengintip ke ruang kerja ayahnya. Di ruangan itu tersimpan buku-buku koleksi ayahnya. Ruangan itu dialasi tikar lampit Kalimantan. Sangat nyaman. Arya dan Astri betah berlama-lama membaca di situ. Ibu Arya yang seorang guru, juga sering mengoreksi soal-soal ulangan di situ. Sekarang ini lampu ruangan itu mati. Ayah belum sempat menggantikan dengan lampu baru. Arya mengintip sekali lagi. Namun ia tidak bisa melihat jelas karena ruangan itu agak gelap. Sore itu tidak ada seorang pun di rumah kecuali Arya. Ayah dan ibu mengantar Astri ke dokter gigi. Arya mulai gelisah. Ia ingin sekali masuk ke ruangan itu. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh dering telepon. Ternyata dari Dani, teman sekelasnya. "Kalau kamu tidak bisa menemukannya, berarti kamu ingkar janji. Dasar pengecut!" kata Dani dengan suara keras. "Tapi Dan..." jawab Arya gugup. Belum sempat Arya menyelesaikan kalimatnya, telepon sudah ditutup Dani. Arya lalu berjalan menuju ruang belajar. Besok Ibu akan memberi ulangan matematika. Di ruang itulah biasanya Ibu mempersiapkan soal-soal ulangan. Perlahan-lahan dibukanya pintu ruangan itu. Berkas sinar lampu dari ruang makan menerobos masuk. "Itu dia!" gumam Arya gembira. Sebuah buku tergeletak di meja. Tampak ada sehelai kertas terselip di dalamnya. Arya tahu benar bahwa mengintip soal sebelum ulangan adalah perbuatan curang. Namun ejekan Dani terngiang-ngiang di telinganya. Arya menarik napas panjang dan berkata pada dirinya sendiri, "Aku bukan pengecut. Aku harus mengambilnya!" Dengan gemetar, diambilnya kertas itu dari atas meja. Lega rasanya begitu melihat bahwa kertas itu benar-benar soal ulangan matematika. Rasa takut kembali muncul di hatinya. "Pengecut, pengecut!" Mengingat kata-kata Dani itu, Arya menjadi nekat membawa kertas itu keluar. Secepat kilat ia lari ke ruang TV menelepon Dani. "Hebat!" teriak Dani. Arya lalu membacakan soal matematika itu dan Dani mencatatnya. "Terima kasih, Arya. Besok kutraktir es krim Mas Doto deh!" seru Dani riang. Arya tertegun sejenak. Dia lalu lari ke ruang belajar dan menyimpan kembali kertas soal itu. Baru saja Arya hendak menutup pintu ruang belajar, terdengar suara mobil Ayah di depan rumah. "Hmmm, untung sudah beres," gumamnya perlahan. Keesokkan harinya ulangan matematika berlangsung sesuai jadwal. "Ya ampun, soalnya persis sekali!" seru Arya dalam hati. Dani berhasil menyelesaikan soal ulangan dalam waktu dua puluh menit. Ketika ia menyerahkan lembar jawaban, semua anak memandang keheranan padanya. Arya tersenyum dan Dani membalas dengan mengedipkan sebelah matanya. "Kau adalah sahabatku yang paling baik di dunia!" ucap Dani saat mereka menikmati es krim di bawah pohon. Arya tersipu. Sore harinya, saat Arya pulang ke rumah, "Arya, Ibu punya kejutan buatmu!" seru Ibu gembira. "Wow, chicken pie!" teriak Arya. "Makasih, Bu!" seru Arya lagi. Saat makan malam tiba, dengan bangga Ibu menceritakan kehebatan anaknya. "Ayah, Arya mendapat nilai matematika paling tinggi di kelas, lo!" seru Ibu. "Wah hebat! Anak istimewa harus mendapat hadiah istimewa! " timpal Ayah. "Aku juga mau kasih Mas Arya hadiah. Tapi rahasia!" ucap Astri, adik Arya. Arya menutup mulut dengan tangannya. Alisnya agak terangkat. Ia menjadi salah tingkah. Ia malu dan merasa sangat bersalah. Arya akhirnya menunduk dan berkata lirih, "Maaf, Bu. Saya membaca soal ulangan matematika itu tadi malam," air mata menggenang di pelupuk matanya. Ibu memeluknya dengan lembut dan berkata, "Hmm, Ibu senang akhirnya kamu mengaku. Tapi mengapa kau lakukan itu? Ada yang menyuruhmu?" desak Ibu lembut. "Ti...tidak, Bu!" sahut Arya cepat, tetap menunduk. "Memang serba salah jadi anak guru, ya?" Ibu menyelidik halus. "Mmm...sebetulnya kalau aku berani, hal ini tidak akan terjadi, Bu," jawab Arya memberanikan diri. Ibu tersenyum mendengar jawaban anaknya. "Sebenarnya Ibu curiga sejak tadi malam. Kau tidak menyelipkan kembali soal matematika itu pada halaman semula," jelas Ibu bijak. "Dan Ibu tambah curiga melihat gerak-gerik Dani saat menyerahkan soal. Tapi sudahlah, kamu kan sudah mengakui kesalahanmu," ucap Ibu lagi. "Jadi, sebetulnya Ibu sudah tahu sejak tadi malam?" Arya keheranan. Ibu tersenyum mengangguk. "Lo...kenapa Mas Arya tidak langsung dimarahi, Bu?" tanya Astri. Ayah tertawa sambil mengacak-acak rambut Astri, "Kamu tuh paling suka kalau Mas Arya dihukum!" "Menghukum seseorang itu tidak harus selalu dengan marah-marah!" Ibu menjelaskan. "Bu, Arya lebih baik dimarahi habis-habisan daripada diperlakukan dengan baik begini," sergah Arya. "Akh kamu! Sudah salah malah nawar-nawar!" sahut Ayah sambil tertawa. Arya menghela nafasnya. Tiba-tiba Ayah menyeletuk, "Astri, sini chicken pie nya. Ayah habiskan saja deh!" Astri dan Arya serentak lari menuju lemari makan, dan berteriak, "Jangan dooong!" Ayah dan Ibu tertawa melihat tingkah kedua anaknya. ***
Mundur satu

Barter

Selesai sudah Emi menyapu lantai rumah. Di luar, Dian telah menunggu untuk jajan miso di tempat Pak Saerah.“Yo’ik… yo ‘ik…” seru Emi riang sembari berlari menuruni anak tangga teras.“Lari-lari, nanti jatuh lo,” Dian tersenyum dari atas kursi rodanya.Ya, ia murid SLB bagian D. Rumah Pak Saerah berada di depan kompleks SLB. Gerobak miso sudah siap di serambi. Mie dan bulatan-bulatan bakso nampak menggunung di dalamnya. Ini sudah jam 4 sore. Pak Saerah tentu akan segera membawanya ke terminal dan pulang malam-malam. Makanya harus buru-buru bila ingin membeli.Siti, anak Pak Saerah, tengah mengupas bawang merah di balai-balai. Melihat Emi dan Dian datang ia menyapa ramah, “Emi, Dian… Mau beli miso, ya? Belum matang nih.”“Lo, tumben?” ujar Emi dan Dian berbarengan.“Ibu lagi sakit. Sekarang Bapak mau mengantarnya ke dokter Isnan. “ Selesai Emi bicara Pak Saerah nampak keluar menuntun sepeda.“Mau beli miso, ya?” Pak Saerah memandang Emi dan Dian. “Tunggu sebentar ya! Siti akan segera membumbui kuahnya dan menggoreng bawang merah,” lanjutnya ramah.Siti bangkit berdiri sembari mengibaskan roknya. Bawang merah yang selesai dikupas berada dalam panci yang dipenuhi air. Siti pernah bilang bila direndam demikian, tak akan pedih di mata ketika diiris nanti.Emi memapah Dian turun dan duduk di balai-balai. Sementara Siti dan Pak Saerah masuk ke dalam rumah. Ada dua pisau di situ, Emi dan Dian meraihnya satu-satu. Siti nampaknya juga sudah siap dengan talenan dan baki. Emi dan Dian mengiris bawang merah di hadapannya tanpa diminta.Tak berapa lama kemudian, Pak Saerah dan Siti nampak ke luar memapah Bu Saerah. Menuju ke sepeda di depan serambi. Tapi begitu Bu Saerah duduk di boncengan, tubuhnya terkulai. Ia kelihatan lemah sekali.“Aku tak kuat kalau harus bonceng sepeda, Pak,” desis Bu Saerah lirih.“Baiklah aku akan memanggil becak. Ayo masuk lagi,” kata Pak Saerah.“Mengapa mesti memanggil becak, Pak? Antarlah Bu Saerah ke dokter dengan kursi rodaku,” cetus Dian tiba-tiba.Gerakan Pak Saerah dan Siti terhenti. Ditolehnya Dian. Dian mengangguk meyakinkan. Emi bergegas mendorong kursi roda ke dekat mereka.“Aaah… kalau begitu… terima kasih banyak,” kata Pak Saerah setelah sesaat terpana. Rasa gembira dan haru berbaur menjadi satu.Nah, Bu Saerah telah duduk manis di atas kursi roda. Pak Saerah mendorongnya ke luar halaman, menyusur sepanjang tepi jalan, menuju tempat praktek dokter Isnan. Siti berdiri mengawasi dari tepi serambi, hingga Bapak-ibunya menikung jalan dan hilang dari pandangan.“Kalian jadi ikut repot,” Siti menoleh pada Dian dan Emi yang tengah sibuk mengiris bawang merah.“Ah, tidak,” sergah Emi dan Dian tulus. “Bawang merahnya tidak pedih di mata, lo,” sambung Emi. “He-eh,” Dian mengiyakan.Siti tersenyum sembari melangkah ke dalam rumah. Ketika ke luar lagi, ia nampak membawa sebuah piring kecil berisi ulekan bumbu miso. Bumbu itu dimasukkannya ke dalam panci kuah yang berada di bagian belakang gerobak. Begitu tutup panci dibuka, wusss… kepul-kepul asap panas mengudara dari dalamnya. Sesudah itu, Siti masuk ke dalam rumah lagi, dan beberapa saat kemudian ke luar lagi. Begitu berulang-ulang. Ia sungguh sibuk. Membuat sambal, membuat acar mentimun, mengiris daun seledri, mencuci daun selada, dan entah apa lagi. Yang pasti ia terampil sekali.“Nah, bawang merah sudah selesai diiris nih, Ti,” kata Emi saat Siti memasukkan setumpukkan mangkuk ke dalam laci gerobak.“Terima kasih.” Siti bergegas melangkah ke dalam rumah, membawa irisan bawang merah yang menggunung dalam baki itu untuk di goreng. Sementara Emi dan Dian tiduran di balai-balai sambil bercakap.Beberapa menit berlalu. Beres sudah semua. Siti berseri-seri, ia siap melayani Dian dan Emi. Dalam meracik miso mangkuk pun Siti sudah ahi.“Wah, rasanya tidak beda dengan buatan Bu Saerah atau Pak Saerah.” Emi berkomentar lalu mulutnya berdecap-decap tiada henti.“Iya ya, Siti pasti jadi juragan nanti,” gurau Dian. Emi dan Siti tertawa mendengarnya.Emi dan Dian baru selesai makan miso, ketika Pak Saerah dan Bu Saerah datang. Di dalam hati mereka berdoa agar Bu Saerah cepat sembuh. Siti dan Pak Saerah memapah Bu Saerah masuk ke dalam rumah. Emi mendorong kursi roda tadi ke dekat balai-balai. Dibantunya Dian duduk ke atasnya. Tak lama kemudian Pak Saerah keluar. Di lehernya terkalung handuk putih berukuran kecil. Artinya ia sudah siap untuk pergi ke terminal. Emi segera menyodorkan tiga lembar uang lima ratusan padanya. Itu uang miso Dian dan dirinya. Tapi Pak Saerah malah tertawa.“Wah, jadi berapa rupiah aku harus membayar sewa kursi roda dan rasa capek kalian mengiris bawang merah?” ujar Pak Saerah jenaka sembari menolak uang yang Emi sodorkan.Emi dan Dian terkesiap. Mereka berpandangan.“Kali ini kalian tak usah bayar. Kita barter saja, ya?” nada suara Pak Saerah masih saja jenaka. Lalu mendorong gerobak misonya turun ke halaman.“Terima kasih, Pak,” seru Emi setelah sesaat terpana.“Aku juga terima kasih Pak,” Dian menirukan.Pak Saerah yang telah sampai di tengah halaman menoleh sekilas sambil tersenyum manis. “Sama-sama!” katanya.“Terima kasih untuk semuanya Emi, Dian…,” gantian Siti kini yang bicara. Tiba-tiba ia sudah berada di mulut pintu.“Sama-sama,” Emi dan Dian menjawab berbarengan. Lantas keduanya berpamitan pulang. Pulang dengan perasaan lapang